sumber : www.korantempo. com
Senin, 21 Januari 2008
Gaya Hidup Awas, Si Kecil Kebablasan! Dr Boyke Dian
Nugraha geleng-geleng kepala mendengar penuturan
pasiennya. Sebut saja Indah, 36 tahun, asal Sukabumi
yang menangis histeris menceritakan kelakuan putrinya,
Nita, 11 tahun.
Bersama dua teman sekelasnya di sekolah menengah
pertama, Nita melakukan aib memalukan keluarga dan
sekolah. "Semua salah kami, memberikan kebebasan
kepadanya menonton tayangan apa pun tanpa diawasi,
termasuk di Internet," papar Indah sesenggukan.
Tangisnya pecah begitu mendengar pengakuan putri
kesayangannya meniru adegan bercinta di film Sex in
the City bersama kakak kelasnya.
Menurut Boyke, kasus Nita belum seberapa. Ada pasien
lain yang mengeluhkan putrinya yang baru berusia 7
tahun saat ngobrol dengan teman sebayanya cekatan
menyebut foreplay, petting, making love, dan
sejenisnya.
Pemilik Klinik Pasutri di bilangan Tebet ini pun
menyebut kisah lain: seorang remaja putri berusia 12
tahun yang diledek temannya karena belum pernah
pacaran dan berciuman. Karena penasaran, remaja itu
mencari tahu di Internet. Tertarik mempraktekkan, ia
meminta dan membayar sopir rumahnya.
"Tidak hanya ciuman, si sopir bejat itu justru
mengajak tahap yang lebih hot, yaitu bercinta.
Akibatnya, si kecil ketagihan, kebablasan, hingga
hamil dan bikin gempar semua (anggota keluarga)," ujar
pakar seks tersebut masygul.
Sederet cerita tersebut bukan ilusi, tapi peristiwa
yang kian dekat dan sering terjadi. Kini para belia
itu sangat piawai dan tahu akan seks melebihi orang
tuanya. "Ini bukan pendidikan seks, melainkan
pengetahuan soal seks yang kebablasan dan berakibat
fatal," kata dokter berkulit putih ini dengan nada
gemas.
Tiga tahun lalu ia hanya melayani pasien dewasa
seputar keluhan masalah mereka. Tapi sekarang, pasutri
yang datang "curhat" soal sederet cerita aneh soal
seks buah hatinya. Boyke mengakui kemampuan anak masa
kini, yang disebut di era generasi platinum, begitu
cepat dan mudah menyerap pengetahuan dan teknologi.
Alhasil, jangan heran jika para bocah bau kencur itu
sudah pandai berselancar ke situs-situs dewasa. "Yang
paling penting, memberikan pendidikan seks buat anak
harus perlu pendampingan, " Boyke berpesan.
Senada dengan Boyke, Elly Risma, Ketua Yayasan Kita
dan Buah Hati yang aktif memberikan pendidikan
kesehatan reproduksi untuk anak-anak sekolah, menyebut
pentingnya pendampingan dari orang tua, guru, dan
lingkungan. "Mereka harus mengikuti perkembangan atau
melakukan update seputar informasi terbaru seksologi
supaya ilmunya tidak ketinggalan, " ujarnya.
Alzena Masykouri, pengajar luar biasa di Fakultas
Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, mengatakan
keluarga merupakan pagar pertama dan utama bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak di dalam dan di luar
rumah.
Pesatnya pengetahuan seks mereka, terutama dampak
kemajuan teknologi yang dekat dengan dunia generasi
platinum, perlu diwaspadai. "Orang tua jangan
"gaptek". Perlu mengimbangi (anak). Sebaiknya
mendampingi (mereka) dan menyaring informasi agar anak
tak salah langkah," ujarnya.
Alzena mengingatkan, dari sisi kejiwaan, si anak harus
pandai menyerap dan memilah informasi mana yang benar
dan tidak tepat buatnya. Untuk moral, jangan sampai
anak terlalu larut berpikir bebas mengadopsi informasi
dunia Barat. HADRIANI P
Tip Aman
Dr Boyke Nugraha memberi tip agar buah hati aman
memahami mengenai seks.
Lengkapi diri Anda dengan pengetahuan terbaru.
Jangan lupa pelajari masalah anatomi, fisiologi,
biologi, moral, dan etika.
Jangan salahkan kemajuan teknologi. Tanamkan
nilai-nilai moral dan dampingi saat mereka mengakses
internet.
Berilah batasan-batasan soal pemanfaatan teknologi,
misalnya mengakses Internet hanya buat mengerjakan
tugas sekolah.
Tempatkan komputer di ruang keluarga dan bukan di
ruang pribadi.
Hati-hati memberikan telepon genggam.
Seringlah berdiskusi dan manfaatkan momen itu untuk
memberi pendidikan seks sesuai dengan usia, kemampuan,
dan cara berpikirnya.
Tanamkan rasa tanggung jawab pada si kecil. Beri
pengertian bahwa tiap perbuatan, termasuk soal seks,
selalu ada risiko dan tanggung jawab yang harus
dipikulnya.
========================================